“Kalau saja aku datang kemarin, mungkin bapak dan ibu tidak mati,” ucapnya lirih. Penyesalan itu keluar setelah seorang tetangganya dikampung sebelah bercerita panjang lebar. Ketika anak muda itu sedang mencari kayu dihutan, ayah ibunya sakit para. Tak seorangpun tahu. Karena rumah itu terpencil. Jauh dipinggir hutan. Mereka tahu setelah beberapa penduduk mencium bau bangkai. Dan ternyata, bau itu berasal dari rumah yang ditinggali anakl muda bersama sepasang orang tua. Bapak dan ibu tua itu ditemukan penduduk sudah tak bernyawa.
“kenapa aku harus tinggalkan mereka ?kenapa hidup aku seburuk ini ?” suara penyesalan anak muda itu lagi-lagi berulang. Ia marah dengan dirinya karena harus mencari potongan kayu hingga satu minggu. Ia kecewa dengan penduduk yang telat memberikan pertolongan. Dan ia pun menggugat nasib yang ditentukan tuhan.
“kenpa tuhan sekejam ini. Kenapa hidup tak pernah ramah,” umpatnya kian menguat sejalan dengan aliran baying-bayang masa lalu. Masih segar ingatannya ketika kedua orang tuanya menangis dengan sebuah kabar. Kakek dan adiknya diabarkan penduduk tenggelam sewaktu mencari ikan disungai. Setelah kejadian itu, kedua orang tuanya sering melamun, suara batukkerap berseling-seling dari mereka berdua.
“Cucuku,” suara parau terdengar begitu dekat oleh anak muda itu. Ia menoleh, “kakek !” spontan, anak muda itu memeluk kakek itu dengan penuh haru. Ia tumpahkan semua duka dalam peluk kasih kak
eknya.“Cucuku,” suara sang kakek mengalir lembut memecah isak tangis pemuda itu. “Hidup ini penuh irama, perhatikanlah kicauan burung disekelilingmu yang bgitu merdu. Alunan seruling angin yang bertiup melalui celah-celah kabut dingin disekitar sini. Gemercik aliran sungai ketika bernbenturan dengan batu cadas. Dan sesekali dilengkapi dengan suara dentuman bedug kehidupan yang terasa begitu keras. Perhatikanlah cucuku. Suara-suara itu membentuk sebuah irama yang mengasyikkan. Nikmatilah, buatlah seribu tarian harapan.”
* * *
Semua orang paham kalau sebuah irama merdu tidak berasal dari satu jenis suara. Ia merupakan perpaduan berbagai suara yang boleh jadi terkesan tidak sejalan atau bahkan bertentangan. Ada warna halus alunan seruling. Ada dentungan kasar suara dram. Ada lengkingan gema dawai.
Itulah warna-warna kehidupan . ada warna halus suara bahagia. Ada warna kasar suara duka. Silih berganti suara itu mengalun, membentuk sebuah irama.
Teman, begitulah irama kehidupan. Nikmatilah melodi indahnya. Buatlah tarian syukur dan lantunan sabar. Agar perjalanan hidup benar-benar mengasyikkan.
Kabut gelap belum lagi berlalu dari sebuah rumah di pinggir hutan tampak seorang anak muda termenung. badanya lemah lunglai.sesekali suara sesenggukan keluar dari mulutnya. Matanya berair.
“Kalau saja aku datang kemarin, mungkin bapak dan ibu tidak mati,” ucapnya lirih. Penyesalan itu keluar setelah seorang tetangganya dikampung sebelah bercerita panjang lebar. Ketika anak muda itu sedang mencari kayu dihutan, ayah ibunya sakit para. Tak seorangpun tahu. Karena rumah itu terpencil. Jauh dipinggir hutan. Mereka tahu setelah beberapa penduduk mencium bau bangkai. Dan ternyata, bau itu berasal dari rumah yang ditinggali anakl muda bersama sepasang orang tua. Bapak dan ibu tua itu ditemukan penduduk sudah tak bernyawa.
“kenapa aku harus tinggalkan mereka ?kenapa hidup aku seburuk ini ?” suara penyesalan anak muda itu lagi-lagi berulang. Ia marah dengan dirinya karena harus mencari potongan kayu hingga satu minggu. Ia kecewa dengan penduduk yang telat memberikan pertolongan. Dan ia pun menggugat nasib yang ditentukan tuhan.
“kenpa tuhan sekejam ini. Kenapa hidup tak pernah ramah,” umpatnya kian menguat sejalan dengan aliran baying-bayang masa lalu. Masih segar ingatannya ketika kedua orang tuanya menangis dengan sebuah kabar. Kakek dan adiknya diabarkan penduduk tenggelam sewaktu mencari ikan disungai. Setelah kejadian itu, kedua orang tuanya sering melamun, suara batukkerap berseling-seling dari mereka berdua.
“Cucuku,” suara parau terdengar begitu dekat oleh anak muda itu. Ia menoleh, “kakek !” spontan, anak muda itu memeluk kakek itu dengan penuh haru. Ia tumpahkan semua duka dalam peluk kasih kakeknya.
“Cucuku,” suara sang kakek mengalir lembut memecah isak tangis pemuda itu. “Hidup ini penuh irama, perhatikanlah kicauan burung disekelilingmu yang bgitu merdu. Alunan seruling angin yang bertiup melalui celah-celah kabut dingin disekitar sini. Gemercik aliran sungai ketika bernbenturan dengan batu cadas. Dan sesekali dilengkapi dengan suara dentuman bedug kehidupan yang terasa begitu keras. Perhatikanlah cucuku. Suara-suara itu membentuk sebuah irama yang mengasyikkan. Nikmatilah, buatlah seribu tarian harapan.”
* * *
Semua orang paham kalau sebuah irama merdu tidak berasal dari satu jenis suara. Ia merupakan perpaduan berbagai suara yang boleh jadi terkesan tidak sejalan atau bahkan bertentangan. Ada warna halus alunan seruling. Ada dentungan kasar suara dram. Ada lengkingan gema dawai.
Itulah warna-warna kehidupan . ada warna halus suara bahagia. Ada warna kasar suara duka. Silih berganti suara itu mengalun, membentuk sebuah irama.
Teman, begitulah irama kehidupan. Nikmatilah melodi indahnya. Buatlah tarian syukur dan lantunan sabar. Agar perjalanan hidup benar-benar mengasyikkan.

Posting Komentar